Perempuan Dulu dan Sekarang
Sebelum islam datang, perempuan dipandang sebagai orang yang tidak berharga. Bahkan mereka juga dipandang sebagai pembawa sial dan memalukan.
Dalam tradisi dan hukum kuno, perempuan disebut sebagai makhluk yang selalu bergantung kepada laki-laki. Jika dia menikah, secara otomatis diri dan seluruh hartanya menjadi milik suaminya. Tak jauh berbeda dengan masa jahiliyah, perempuan dipaksa untuk selalu taat kepada kepala suku atau suami mereka. Mereka dipandang seperti binatang ternak yang bisa dikontrol, dijual, atau bahkan bisa diwariskan.
Arab jahiliyah juga terkenal dengan tradisi mengubur bayi perempuan hidup-hidup. Mereka menguburnya dengan alasan bahwa perempuan hanya akan merepotkan keluarga. Selain itu, dalam peperangan perempuan lebih mudah ditangkap musuh dan kemudian harus ditebus. Arab jahiliyah juga terkenal tradisinya yang membolehkan laki-laki mempunyai istri lebih dari satu.
Masih banyak lagi tradisi masyarakat jahiliyah yang jelas-jelas mendiskreditkan perempuan, salah satunya lewat tiga bentuk pernikahan. Pertama, nikah al-dazyan, yaitu pernikahan yang anak laki-laki tertuanya berhak untuk menikahi ibunya dengan syarat jika ayahnya sudah meninggal. Dalam hal ini, cukup dengan melemparkan sehelai kain kepada ibunya, maka secara otomatis si anak lelaki ini bisa mewarisi ibunya sebagai istri.
Kedua, nikah zawj al-balad, yaitu dua orang suami sepakat untuk saling menukar istri mereka tanpa mahar apapun. Terakhir, nikah zawj al-istibda, yaitu seorang suami memaksa istrinya untuk tidur dengan lelaki lain sampai hamil dan setelah hamil istrinya dipaksa lagi untuk kembali kepada suaminya. Tujuan dari nikah zawj al-istibda ini adalah untuk memperoleh 'bibit unggul' dari orang yang dipandang mempunyai kelebihan.
Kedatangan islam justru bertujuan untuk mengangkat derajat perempuan. Bahkan perempuan dinilai lebih istimewa daripada laki-laki. Banyak ayat Al-Qur'an yang berbicara tentang kedudukan perempuan dalam islam. Bahkan ada satu surah dalam Al-Qur'an yang berarti perempuan, yaitu An-Nisa'. Walaupun demikian, Allah Swt. tidak pernah membeda-bedakan status perempuan dan laki-laki, semua sama di mata Allah Swt. Hal yang membedakannya hanyalah keimanan dari masing-masing individu.
Tujuan dari penciptaan perempuan dan laki-laki adalah untuk saling melengkapi, terutama dalam menjalani segala perintah kepada Allah Awt. Hal ini dijelaskan dalam ayat,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu." (QS An-Nisa' [4]:1)
Dalam hal beribadah pun Allah tidak membeda-bedakan antara perempuan dan laki-laki. Ini seperti yang tercantum dalam ayat,
فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ ۖ بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ ۖ فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ثَوَابًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ
"Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah (keturunan) dari sebagian yang lain. Maka orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang terbunuh, pasti akan Aku hapus kesalahan mereka dan pasti Aku masukan mereka ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sebagai pahala dari Allah. Dan di sisi Allah ada pahala yang baik." (QS Ali-Imran [3]: 195)
Demikian pula pada ayat,
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS An-Nahl [16]: 97)
Daftar Pustaka:
Aminah, Mia Siti. 2010. Muslimah Career: Mencapai Karir Tertinggi di Hadapan Allah, Keluarga, dan Pekerjaan. Yogyakarta: Percetakan Galangpress

0 Response to "Perempuan Dulu dan Sekarang"
Posting Komentar