Muslimah Tangguh di Zaman Rasulullah Saw.
Di zaman Rasulullah Saw., ada beberapa sosok perempuan tangguh yang namanya akan selalu dikenang dalam sejarah Islam. Mereka terus berjuang agar aturan Islam selalu ditegakkan. Berikut ini adalah beberapa nama di antara mereka.
1. Asma binti Abu Bakar
Asma binti Abu Bakar mencirikan sosok perempuan yang mandiri. Perempuan sering dianggap lemah dan enggan melakukan pekerjaan berat. Namun sosok Asma menghapuskan pandangan tersebut.
Asma binti Abu Bakar ra., termasuk ke dalam golongan Assabiqunal Awwalun atau orang-orang yang pertama kali memeluk Islam saat agama ini datang. Asma adalah saudara perempuan Aisyah, istri Rasulullah Saw. Suatu hari, Rasulullah Saw. dan Abu Bakar ra. memberi perintah kepada Zaid ra. dan beberapa pegawainya untuk berhijrah ke Madinah sambil membawa keluarganya dengan menggunakan kuda. Sesampainya di Quba, Asma ra. melahirkan anak pertamanya yang bernama Abdullah bin Zubair ra.
Dalam sejarah Islam, Abdullah bin Zubair ra. adalah bayi pertama yang dilahirkan setelah hijrah. Meskipun pada waktu itu merupakan masa yang penuh dengan kesulitan, kemiskinan, dan kelaparan, namun pada saat yang sama muncul pula sosok yang hebat dan berani serta tidak ada tandingannya.
Berdasarkan riwayat Bukhari, Asma ra. pernah bercerita tentang keadaan hidupnya. Asma menikah dengan Zubair ra. yang tidak mempunyai harta sedikit pun dalam hidupnya, baik berupa tanah, budak untuk membantunya bekerja, atau apapun juga. Namun itu tidak mengurungkan niat mereka untuk menikah. Setelah menikah, harta yang mereka miliki hanyalah seekor unta dan seekor kuda milik Asma ra. Unta itu sering digunakan untuk membawa air, rumput, dan lain-lain.
Asma selalu mencoba melakukan segala macam pekerjaan rumahnya sendirian. Untuk makan hewan-hewan itu, Asma yang menumbuk kurma untuk diberikan kepada mereka. Ia jugalah yang mengisi tempat air hingga penuh. Jika ember yang biasa digunakan untuk mengisi tempat air itu pecah, maka asma sendiri yang menambalnya.
Untuk kudanya, Asma yang selalu mencari rumput serta memberinya minum meskipun itu adalah pekerjaan yang cukup sulit baginya. Karena Asma kurang mahir dalam membuat roti, ia mempercayakan pekerjaan tersebut kepada tetangganya, yaitu seorang perempuan Anshar yang ikhlas. Asma hanya tinggal memberikan campuran gandum dan air kepadanya dan perempuan itulah yang kemudian mengolahnya hingga menjadi roti.
Setibanya di kota Madinah, Rasulullah Saw. memberi hadiah kepada Zubair ra. berupa sepetak tanah yang letaknya tidak jauh dari kota. Tanah tersebut lalu ditanami pohon kurma. Kurma yang dihasilkan pun cukup melimpah. Suatu hari, Asma berjalan sambil membawa buah krma di atas kepalanya. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Rasulullah Saw. yang sedang menunggang unta bersama beberapa keluarga Anshar lainnya. Ketika Rasul melihat Asma, beliau pun langsung menghentikan untanya. Asma pun diajak untuk menunggang unta beliau. Namun karena merasa malu dan khawatir nantinya Zubair ra. yang bersifat pencemburu akan marah terhadapnya, Asma pun menolak tawaran itu secara halus. Rasul pun memahami hal itu seraya meninggalkan Asma.
Setelah sampai di rumah, Asma langsung menceritakan kejadian in kepada Zubair ra. Ia pun bercerita betapa ia merasa malu dan khawatir kalau-kalau Zubair ra. akan merasa cemburu dan marah kepadanya. Di luar dugaan, ternyata Zubair ra. tidak marah sama sekali. Justru ia lebih cemburu terhadap Asma yang selalu membawa buah kurma di atas kepalanya sedangkan Zubair ra. tidak bisa membantunya. Sama halnya dengan Rasulullah Saw., Abu Bakar juga memberi Asma seorang hamba sahaya untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Dengan demikian, pekerjaan Asma pun menjadi lebih ringan. Suatu hari, Abu Bakar berhijrah bersama Rasulullah Saw. Dalam perjalanan hijrahnya ini, beliau membawa seluruh hartanya sehingga beliau tidak meninggalkan sesuatu untuk keluarganya. Di tengah perjalanan, ternyata Abu Bakar meninggal dunia. Sepeninggal Abu Bakar, ayah beliau yaitu Abu Qahafah yang tuna netra dan belum masuk islam, mengunjungi cucunya yaitu Asma ra. dan Aisyah ra. untuk menghibur mereka. Abu Qahafah tahu kalau Abu Bakar tidak meninggalkan harta sedikit pun untuk mereka sehingga ia sangat mengkhawatirkan keadaan mereka dan tidak mau kalau mereka sampai terbebani dengan keadaan itu.
Asma juga merupakan seorang muslimah yang sangat dermawan. Pada awalnya, ia memang selalu menghitung hartanya sebelum ia keluarkan di jalan Allah. Namun saat Rasulullah Saw. mengetahui hal ini, beliau bersabda, "Janganlah kalian menyimpan-nyimpan atau menghitung-hitung (harta yang akan diinfakkan). Apabila mampu, belanjakanlah sebanyak mungkin."
Sejak saat itu, Asma jadi semakin banyak mengeluarkan hartanya di jalan Allah. Ia pun selalu memberi nasihat kepada perempuan dan anak-anak yang ada di rumahnya untuk selalu mengeluarkan harta di jalan Allah. Jangan sampai hanya menungguu harta sisa belanja hanya untuk bersedekah. Kalau demikian, kesempatan untuk membelanjakan harta di jalan Allah menjadi berkurang karena kebutuhan manusia itu selalu bertambah. Kalau harta kita selalu digunakan untuk bersedekah, kita tidak akan pernah merasakan kerugian.
2. Kadijah binti Khuwailid
Siapa yang tak kenal dengan Khadijah binti Khuwailid? Namanya begitu harum dan sering menjadi bahan perbincangan karena kesalehannya. Ketika Rasulullah Saw. mengalami rintangan dan gangguan dari kaum Quraisy, Khadijak dengan setia selalu mendampingi dan memotivasi Rasulullah Saw. Perjuangannya mendampingi Rasulullah membuatnya layak menjadi ummul mukminin, perempuan terbaik di dunia. Dialah sebaik-baik istri dan teladan bagi seluruh muslimah di dunia ini.
Sebelum Rasulullah Saw. diangkat menjadi Nabi, Khadijah membantunya dengan menyiapkan sebuah rumah yang nyaman untuk Rasulullah Saw. dan membantu ketika Rasulullah Saw. merenung di Gua Hira. Khadijah adalah perempuan pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Khadijah adalah sebaik-baik perempuan yang menolongnya dengan jiwa, harta, dan keluarga. Kehidupannya penuh dengan kebaikan dan jiwanya penuh dengan kebaikan. Tak salah bila Rasulullah selalu mengingatnya dan menempatkannya dalam jajaran wanita-wanita mulia.
Rasulullah Saw. berkata, "Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar, dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan, dan dia menolongku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa".
Khadijah senantiasa menjadi pembela dan penolong Nabi Muhammad Saw. sebelum beliau diangkat menjadi Rasul. Khadijah tidak setengah-tengah membantu beliau dan kaummuslimin. Karena keikhlasannya ini, Allah pun membalas jasanya dengan sebaik-baik balasan dan memberinya kenikmatan dalam surga-Nya. Rasulullah Saw. pernah menceritakan Khadijah dalam sebuah riwayat,
"Ketika Jibril datang kepada Nabi Saw., dia berkata, 'Wahai Rasulullah, inilah Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah dan makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan salam kepadanya dari Tuhannya dan aku, dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di surga dari mutiara yang tiada keributan di dalamnya dan tidak ada kepayahan'." (HR Bukhari dalam "Fadhaail Ashhaabin" Nabi Saw. Imam Adz-Dzahabi berkata,"Keshahihannya telah disepakati.")
3. Al-Khansa
Ketika membicarakan seorang perempuan yang begitu tangguh dan tegar dalam menghadapi cobaan hidup, kita pasti teringat akan pengorbanan seorang perempuan luar biasa bernama Al-Khansa. Dia adalah seorang shahabiyah yang ikhlas merelakan keempat orang anaknya untuk mati syahid di jalan Allah semata-mata demi tegaknya Islam di muka bumi. Siapakah Al-Khansa dan mengapa namanya diabadikan dalam sejarah Islam sebagai salah satu seorang shahabiyah yang tangguh?
Al-Khansa mempunyai nama asli Tumadhar binti' Amr bin Syuraid bin 'Ushayyah As Sulamiyah. Sebelum masuk Islam, dia adalah sosok manusia biasa dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dia bukanlah sosok yang tegar dan bisa ikhlas menerima kepergian dua saudara kandungnya. Ia seperti perempuan lainnya yang sangat terpukul dan sedih ketika ditinggalkan oleh dua orang saudara yang sangat dia cintai.
Ketka Muawiyah, kakak kandungnya wafat, Al-Khansa membuat puisi yang mengungkapkan kesedihan dan kepedihannya yang luar biasa karena ditinggalkan kakak tercinta. Saat kakak kandungnya yang lain yaitu Shakr juga wafat, hati Al-Khansa pun menjadi lebih sedih lagi. Ia bahkan membuat sebuah puisi yang lebih panjang untuknya. Al-Khansa juga pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya agar ia tidak perlu lagi merasa sedih. Fakta tersebut cukup membuktikan bahwa Al-Khansa adalah seorang perempuan biasa yang sama dengan perempuan-perempuan lainnya.
Namun, manusia tidak pernah tahu rencana Allah. Allah pun membawa Al-Khansa pada nikmatnya iman Islam. Keimanan tersebut mampu mengubah banyak hal dalam hidupnya, termasuk mengubah kepribadiannya. Meskipun semenjak masuk Islam Al-Khansa selalu didera dengan ujian dan cobaan, namun semua itu tidak membuat dirinya menyerah dan semangatnya jadi surut. Justru itu membuat dirinya semakin kuat dan menjadikannya sebagai seoranh shahabiyah yang penyabar, bijaksana, cerdas, dan berpikir kritis. Ia pun memiliki akhlak yang mulia serta pemberani.
Namun, Allah akan selalu menguji hambanya untuk mengetahui kualitas ketakwaannya. Begitu pun dengan Al-Khansa. Allah mengujinya dengan kehilangan yang luar biasa, lebih dari kehilangan dua saudara kandungnya ketika dia belum mengenal agama Islam. Kali ini Allah mengujinya dengan kehilangan empat orang anak tercintanya di medan peperangan. Mereka gugur sebagai syuhada dalam perang Qadisiyyah.
Bagaimana reaksi Al-Khansa ketika mengetahui keempat putranya syahid di medan perang Qadisiyyah? Sungguh luar biasa, ia bisa menerima semua cobaan yang berat ini dengan ikhlas dan sabar. Sangat jauh berbeda dengan keadaannya ketika belum masuk Islam. Ia pasti akan sangat sedih dan meratapi kepergian anak-anaknya tersebut. Namun kali ini, ia justru akan sangat marah jika keempat putranya batal berangkat ke medan jihad dan melalaikan perintah Allah untuk berjihad.
Ia berkata pada anak-anaknya, "Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian memeluk agama ini tanpa paksaan. Kalian telah berhijrah dengan kehendak sendiri. Demi Allah, yang tiada Tuhan selain Dia. Sesungguhnya kalian ini putra-putra dari seorang lelaki dan dari seorang perempuan yang sama. Tidak pantas bagiku untuk menghianati bapakmu, atau membuat malu pamanmu, atau mencoreng arang di kening keluargamu. Jika kalian telah melihat perang, singsingkanlah lengan baju dan berangkatlah, majulah paling depan niscaya kalian akan mendapatkan pahala di akhirat. Negri keabadian. Wahai anakku, sesungguhnya Tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad itu Rasul Allah. Inilah kebenaran sejati, maka untuk itu berperanglah dan demi itu pula bertempurlah sampai mati. Wahai anakku, carilah maut niscaya dianugerahi hidup".
Islam begitu luar biasa telah mengubahnya menjadi sosok yang luar biasa tegar. Ia merasa bahagia dan bangga karena telah berhasil melahirkan sosok mujahid yang mampu memperjuangkan islam.
Apa yang dicontohkan oleh Al-Khansa merupakan satu pelajaran berharga yang patut dicontoh oleh kita sebagai muslimah. Al-Khansa yang lemah lembut bisa menjadi seseorang yang gagah berani di tengah medan peperangan demi menjaga kehormatan Islam. Namun perjuangannya telah menyurutkan semangat Al-Khansa untuk tetap mendidik anak-anaknya untuk menjadi pejuang Islam yang tangguh dan beriman.

0 Response to "Muslimah Tangguh di Zaman Rasulullah Saw."
Posting Komentar